Pages

Sabtu, 18 Juni 2011

Pasir dan Batu




Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas tanah : "HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU"
Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu "HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU"
Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di tanah dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?
Temannyapun menjawab : "Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas tanah, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya"
 "Tulislah sakit hatimu di atas tanah, dan Ukirlah kebaikan dia atas batu"

Pangeran Kodok




Putri Raja di pinggir sumur
Pada jaman dahulu kala, ketika saat itu dengan mengharapkan sesuatu, hal itu dapat terwujud, ada seorang Raja yang mempunyai putri-putri yang sangat cantik jelita, dan putrinya yang termuda begitu cantiknya sehingga matahari sendiri yang melihat kecantikan putri termuda itu menjadi ragu-ragu untuk bersinar. Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, terletak sebuah sumur; dan ketika cuaca panas, putri Raja yang termuda sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.
Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada hyang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,
"Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu."
Dan ketika putri raja tersebut melihat darimana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.
"Oh, kamukah yang berbicara?" kata sang putri; "Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur."
"Jangan kuatir, jangan menangis," jawab sang kodok, "Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?"
"Apapun yang kamu inginkan," katanya; "pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini."
"Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya," jawab sang kodok; "Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, - jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu."
"Ya tentu," jawab sang putri raja; "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku."
Tetapi putri raja tersebut berpikir,  "Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang."
Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam ari dan mulai menyelam turu, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.
Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.
"Berhenti, berhenti!" teriak sang kodok; "bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!"
Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.
Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang berkata "Putri raja yang termuda, biarkanlah saya masuk!"
Putri Raja yang termuda itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan tersebut berkata,
"Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"
"Oh.. tidak," jawabnya; "tidak ada raksasa, hanya kodok jelek."
"Dan apa yang kodok itu minta?" tanya sang Raja.
"Oh papa," jawabnya, "ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku."
Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,
"Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untukku!"
"Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi," kata sang Raja; "sekarang biarkanlah dia masuk."
Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."
Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja, dan disana dia berkata lagi,
"Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama."
Dan putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.
"Saya merasa cukup sekarang," kata sang kodok pada akhirnya, "dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."
Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,
"Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi."
Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."
Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,
"Diamlah kamu kodok jelek!"
Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.
Henry pelayan setiaDengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, "Henry, roda kereta mungkin patah!", tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini".
Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.

Orang tua dan Setan




Orang tua dengan benjolan di pipiDahulu kala ada seorang laki-laki tua yang mempunyai benjolan besar di sebelah kanan wajahnya.
Suatu hari dia pergi ke gunung untuk memotong kayu, ketika hujan mulai turun dan angin bertiup sangat kencang, dia merasa tidak mungkin untuk pulang ke rumah, dengan ketakutan, dia mengambil tempat perlindungan di dalam rongga sebuah pohon tua. Ketika duduk meringkuk dan tak dapat tidur, dia mendengar bunyi banyak suara yang membingungkan di kejauhan yang perlahan-lahan mendekat ke arah mana dia berada. Dia berkata kepada sendiri: "Aneh sekali!" Saya menyangka saya seorang diri saja di gunung ini, tetapi saya mendengar suara banyak orang disini." Oleh sebab itu, dengan sedikit keberanian, dia mengintip, dan melihat kerumunan besar dari orang-orang yang kelihatan aneh. Ada yang berwarna merah, dan berpakaian hijau; yang lainnya berwarna hitam dan berpakaian merah; ada yang hanya memiliki satu mata; sedangkan yang lain tidak mempunyai mulut; memang, sangat tidak mungkin untuk menggambarkan berbagai macam bentuk dan keanehan mereka. Mereka menyalakan api, sehingga menjadi sangat terang seperti di siang hari. Mereka duduk dalam dua barisan yang melintang, dan mulai meminum anggur dan bergembira seperti manusia. Mereka mengedarkan cangkir minuman anggur begitu sering sehingga banyak dari mereka kelihatannya minum terlalu banyak. Salah satu setan muda bangun dan mulai menyanyikan lagu gembira dan menari; begitu juga dengan yang lainnya; beberapa dapat menari dengan baik dan yang lainnya menari dengan sangat buruk. Salah satunya berkata : "Kita sudah menikmati kesenangan yang luar biasa malam ini, tetapi saya lebih suka melihat hal-hal yang baru."
Hantu-hantu bergembiraLalu orang tua itu, hilang rasa takutnya, berpikir bahwa dia juga ingin menari, dan berkata, "Apa yang akan terjadi, terjadilah, bila karena hal ini saya harus meninggal, saya harus tetap akan menari juga," Dia menyelinap keluar dari rongga pohon dan, dengan penutup kepala yang diselipkan menutupi hidungnya dan kapak yang tergantung di pinggangnya, dia mulai menari. Setan-setan itu terlonjak kaget dan berkata, "Siapa ini?" tetapi orang tua itu berayun maju mundur, ke kiri dan ke kanan, semua kerumunan tersebut tertawa dan menikmati tarian yang dibawakan oleh orang tua itu, dan berkata: "Orang tua itu menari dengan sangat bagus! Kamu harus selalu datang dan menemani kami menari disini, tetapi, kami takut kamu mungkin tidak akan datang, jadi kamu harus memberi kami jaminan bahwa kamu akan datang." Jadi setan-setan tersebut mulai berunding sesamanya, dan, setuju bahwa benjolan di wajah orang tua itu adalah kekayaan yang pasti sangat tinggi nilainya, dan menuntut untuk diambil sebagai jaminan. Orang tua itu membalas berkata: "Saya memiliki benjolan ini selama bertahun-tahun, dan saya tidak memiliki alasan untuk berpisah dengan benjolan ini, tetapi kamu bisa mengambilnya, atau sebuah mataku, hidung atau apapun yang kamu inginkan." Lalu setan tersebut memegang benjolan tersebut, memutar dan menariknya, mengambilnya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun, dan menyimpannya sebagai jaminan bahwa orang tua itu akan kembali. Ketika hari mulai fajar, burung-burung mulai bernyanyi, setan-setan tersebut terburu-buru untuk pergi.
Orang tua itu meraba wajahnya dan menemukan bahwa wajahnya menjadi mulus tanpa ada benjolan besar lagi di wajahnya. Dia lupa akan kayu yang dipotongnya dan terburu-buru untuk pulang. Istrinya, begitu melihat dia, berteriak kegirangan dan berkata, "Apa yang terjadi denganmu?" Lalu orang tua itu menceritakan semua kisah yang terjadi padanya.
Orang tua dengan dua benjolan di pipiSaat itu, diantara tetangganya, ada orang tua juga yang memiliki benjolan di sebelah kiri wajahnya. Mendengan bahwa orang tua yang pertama tadi berhasil menyingkirkan kesialannya, dia berencana untuk melakukan hal yang sama, Lalu dia berangkat ke gunung dan menyelinap ke rongga pohon yang disebutkan oleh orang tua pertama dan menunggu hingga setan-setan tersebut muncul. Dengan keyakinan penuh, setan-setan tersebut datang seperti yang dikatakan, dan mereka mulai duduk, meminum anggur dan bergembira seperti sebelumnya. Orang tua yang kedua ini, ketakutan dan mulai gemetar, menyelinap keluar dari rongga pohon. Setan-setan tersebut menyambut kedatangannya dan berkata: "Orang tua ini telah datang, mari kita lihat dia menari." Tetapi orang tua yang satu ini sangat kaku dan menari tidak sebaik orang tua yang pertama, sehingga setan-setan itu berteriak: "Tarian kamu sangat jelek dan bertambah buruk dan buruk, kami akan memberikan kamu kembali benjolan yang kami ambil sebagai jaminan." Saat itu, setan yang membawa benjolan tersebut menempelkannya pada sisi wajah kanan si orang tua itu; orang tua yang sial itu akhirnya pulang kerumah dengan benjolan pada kedua sisi wajahnya.

Memberi Lonceng pada Kucing




Suatu hari tikus-tikus berkumpul untuk berdiskusi dan memutuskan untuk membuat rencana yang akan membebaskan mereka selama-lamanya dari musuh mereka, yaitu kucing. Mereka berharap paling tidak mereka akan menemukan cara agar tahu kapan kucing tersebut akan datang, sehingga mereka mempunyai waktu untuk lari. Karena selama ini mereka terus hidup dalam ketakutan pada cakar kucing tersebut dan mereka terkadang sangat takut untuk keluar dari sarangnya di siang hari maupun malam hari.
Banyak rencana yang telah didiskusikan, tetapi tak ada satupun dari rencana tersebut yang mereka rasa cukup bagus. Akhirnya seekor tikus yang masih muda bangkit berdiri dan berkata:
Tikus sedang berdiskusi
"Saya mempunyai rencana yang mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi saya bisa menjamin bahwa rencana ini akan berhasil. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggantungkan sebuah lonceng pada leher kucing itu. Ketika kita mendengar lonceng berbunyi, kita bisa langsung tahu bahwa musuh kita telah datang."
Semua tikus yang mendengar rencana tersebut terkejut karena mereka tidak pernah memikirkan rencana tersebut sebelumnya. Mereka kemudian bergembira karena merasa rencana itu sangat bagus, tetapi di tengah-tengah kegembiraan mereka, seekor tikus yang lebih tua maju ke depan dan berkata:
"Saya mengatakan bahwa rencana dari tikus muda itu sangatlah bagus. Tetapi saya akan memberikan satu pertanyaan: Siapa yang akan mengalungkan lonceng pada kucing tersebut?"
Kadang kala, berbicara dan melakukan sesuatu adalah hal yang berbeda.

Kura-kura dan Sepasang Itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.
Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.
Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
Kura-kura dan Itik"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."
Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.
Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:
"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"
"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.
Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.
Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

Kodok dan Seekor Kerbau





Seekor kerbau datang ke sebuah kolam yang penuh dengan alang-alang untuk minum. Ketika dia menginjakkan kakinya yang berat ke atas air, secara tidak sengaja dia menginjak seekor kodok kecil sehingga masuk ke dalam lumpur. Ibu kodok yang tidak melihat kejadian itu selanjutnya mulai merasa kehilangan satu anakknya dan bertanya kepada anak kodok yang lainnya apa-apa saja yang terjadi dengan anak kodok itu.

"Satu makhluk yang sangat besar," kata salah satu dari anak kodok , "menginjak saudaraku dengan kakinya yang sangat besar!"
Kodok dan anak-anaknya"Besar katanya!" kata ibu kodok, sambil meniup dirinya sendiri sehingga menggelembung menjadi besar. "Apakah dia sebesar ini?"


"Oh, jauh lebih besar!" kata mereka serempak.

Ibu kodok kembali menggelembungkan dirinya lebih besar lagi.

"Dia tidak mungkin lebih besar dari ini," katanya kembali. Tetapi kodok-kodok yang kecil itu mengatakan bahwa makhluk tersebut jauh lebih besar dan ibu kodok tersebut terus meniup dan menggelembungkan dirinya lagi dan lagi hingga dia meledak.


Jangan mencoba melakukan sesuatu yang tidak mungkin.

Kakak Beradik Andrew Lang

Seorang anak laki-laki menarik tangan adik perempuannya dan berkata: "Lihat, kita tidak pernah merasakan kebahagiaan semenjak ibu kita meninggal. Ibu tiri kita selalu memukuli kita setiap hari, dan kita tidak berani berada di dekatnya karena dia selalu menendang kita untuk menjauh darinya. Kita tidak pernah dapat makanan yang baik kecuali remah-remah dan sisa-sisa roti. Seandainya saja ibu kita masih hidup dan tahu semua penderitaan kita ini! Mari ikutlah denganku, mari kita tinggalkan rumah ini."
Lalu kakak beradik itupun meninggalkan rumah ibu tirinya, berjalan seharian penuh, dan saat hujan turun dengan deras adik perempuannya berkata: "Surga dan hati kita menangis bersama."
Menjelang malam, mereka tiba di sebuah hutan yang besar, dan mereka merasa sangat kelelahan dan kelaparan setelah berjalan jauh. Mereka menemukan satu celah di pohon yang berlubang dan masuk ke celah pohon tersebut dan jatuh tertidur dengan cepat.
Pagi harinya, ketika mereka bangun, matahari bersinar terang dan membawa kehangatan, kakaknya berkata:
"Saya sangat haus, adik kecilku; Jika saja saya bisa menemukan air sungai, saya akan meminumnya disana. Saya serasa mendengarkan aliran sungai di dekat sini." Dia lalu melompat bangun, menarik tangan adik perempuannya dan mencari-cari anak sungai tersebut.
Saat itu ibu tirinya yang sebenarnya adalah seorang penyihir, tahu bahwa kedua anak tirinya telah lari meninggalkan rumah. Dia kemudian diam-diam mengejar mereka. Ketika tahu bahwa mereka kehausan, dia lalu memberi mantra sihir pada semua aliran air yang ada di hutan.
Saat kakak beradik itu menemukan sebuah anak sungai yang bening, sang Kakak langsung ingin meminumnya, tetapi saat itu adik perempuannya mendengar bisikan: "Siapa yang meminumku akan berubah menjadi harimau! siapa yang meminumku akan berubah menjadi harimau!"
Sang adik langsung berteriak, "Kakak, janganlah meminumnya, karena kamu akan berubah menjadi harimau dan akan menerkamku nanti." Sang kakak walaupun merasa kehausan, tidak jadi meminumnya. "Baiklah," katanya, "Kita akan mencari mata air yang lain saja."
Ketika mereka menemukan mata air sungai yang kedua, sang adik mendengarkan suara berbisik: "Siapa yang meminumku akan menjadi serigala, siapa yang meminumku akan menjadi serigala!" dan sang adik langsung berteriak, "Kakak, jangan meminum air disini, karena kamu akan berubah menjadi serigala dan menerkamku." Kembali sang kakak tidak jadi meminumnya dan berkata: "Baiklah, saya masih bisa menahan rasa hausku sampai bertemu dengan mata air yang ketiga."
Dan ketika mereka menemukan mata air sungai yang ketiga, sang adik mendengar bisikan: "Siapa yang meminumku akan berubah menjadi rusa! siapa yang meminumku akan menjadi rusa!" Lalu sang adik memohon, "Kakak, janganlah minum dulu di sini, atau kamu akan berubah menjadi rusa dan lari dariku." Tetapi sang kakak yang sudah sangat kehausan sudah berlutut dan meminum airnya, dan begitu bibirnya menyentuh air sungai itu, dia kemudian langsung berubah menjadi seekor rusa kecil.
Adik perempuan dan kakak yang berubah menjadi rusaSang adik perempuan menangis melihat kakaknya yang telah disihir, begitu pula kakaknya yang telah berubah menjadi rusa ikut menangis di pangkuannya. Akhirnya sang adik berkata: "Tak apa, saya tidak akan meninggalkan kamu sendirian," kemudian dia mengambil sabuk emas miliknya dan mengikatnya di sekeliling leher rusa itu. Lalu dia mengambil selendangnya dan menjadikannya tali yang diikatkan ke sabuk yang melingkar di leher sang rusa. Dia kemudian berjalan bersama sang rusa hingga makin jauh masuk ke dalam hutan, dimana akhirnya mereka menemukan rumah yang kosong dan tidak dihuni lagi. Sang adik memutuskan untuk bermalam dan tinggal di sana bersama sang Rusa.
Setelah beberapa tahun lamanya hidup di hutan ini, suatu hari Raja masuk ke hutan tersebut untuk berburu, sehingga hutan tersebut di penuhi dengan derap-derap kaki kuda, tiupan terompet dari tanduk, dan gonggongan anjing pemburu serta teriakan-teriakan pemburu. Mendengar terompet berburu, sang Rusa menjadi gelisah dan ingin keluar dari rumah itu.
"Ah!" katanya kepada adik perempuannya, "Biarkan saya keluar! saya tidak tahan mendengar terompet itu." Dia terus memohon hingga adik perempuannya menyetujuinya dengan sedih hati. "Tetapi," katanya, "kamu harus kembali sebelum malam. Saya akan mengunci pintu saya karena takut pada pemburu tersebut, jadi untuk mengetahui yang datang itu adalah kamu atau bukan, ketuklah pintuku dan katakan, "Adik tersayang, bukalah pintu, saya ada di luar sini." "Jika kamu tidak berkata apa-apa, saya tidak akan membukakan kamu pintu."Akhirnya sang Rusa setuju dan berlari keluar di alam bebas.
Secepatnya Raja dan pemburu-pemburunya melihat rusa yang indah itu dan melakukan pengejaran, tetapi mereka tidak pernah dapat mengejar dan menemukannya. Saat malam tiba, sang Rusa pulang ke rumah dan mengetuk pintu sambil berkata: "Adik tersayang, bukalah pintu, saya ada di luar sini." Kemudian pintu terbuka dan sang Rusa lalu beristirahat di dalam rumah tersebut.
Keesokan hari ketika perburuan di mulai kembali, dan mendengar terompet di tiupkan, sang Rusa kembali meminta agar adik perempuannya membiarkan dia keluar. Seperti hari kemarin, adiknya membiarkan dia keluar dari rumah dengan sedih.
Saat Raja berburu kembali, dia dan pemburunya melihat sang Rusa dengan sabuk emas di lehernya, dan mulai mengejarnya kembali, hampir seharian penuh mereka mengejar rusa tersebut dan akhirnya sang Rusa terkepung dan sedikit terluka di kaki sehingga sang Rusa tidak dapat berlari kencang lagi. Para pemburu yang mengepung rusa tersebut melihat sang Rusa lari ke sebuah rumah dan mengetuk pintu dan berkata: "Adik tersayang, bukalah pintu, saya ada di luar sini." Pemburu melihat kejadian itu dan melaporkan kepada Raja apa saja yang dilihat mereka. "Esok hari kita akan berburu lagi." kata sang Raja.
Sang Adik saat membuka pintu dan melihat sang Rusa terluka menjadi sangat ketakutan dan bersedih. Dia lalu membersihkan luka dan membalut luka itu dengan ramuan dari daun-daunan. Setelah itu dia berkata, "Pergilah beristirahat agar kamu cepat sembuh."
Keesokan harinya, luka di kaki sang Rusa mulai membaik dan sang Rusa meminta kembali agar diijinkan keluar, "Saya harus keluar, saya akan berhati-hati agar mereka tidak menangkap saya." kata sang Rusa. Sang Adik menangis dan berkata, "Mereka pasti akan menangkapmu kali ini, dan saya akan mejadi sendirian di hutan ini. Saya tidak dapat membiarkan kamu keluar." Sang Rusa membalas, "Kalau begitu, mungkin saya akan meninggal karena bersedih di sini." Akhirnya sang Adik membiarkan sang Rusa keluar dengan hati yang berat.
Saat sang Raja berburu dan melihat Rusa itu, dia berkata kepada pemburunya, "Sekarang kejar dan tangkaplah rusa itu, tetapi jangan sampai melukainya." dan para pemburunya berhasil menangkap sang Rusa. Ketika hari menjelang malam, sang Raja berkata kepada para pemburunya: "Sekarang tunjukkanlah saya dimana rumah kecil di tengah hutan yang kamu lihat itu." Dan mereka bersama-sama pergi ke rumah kecil itu dan sang Raja lalu mengetuk pintu dan berkata, "Adik tersayang, bukalah pintu, saya ada di luar sini." Ketika pintu terbuka, sang Raja melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri di dalam rumah itu.
Sang gadis yang merupakan adik dari sang Rusa menjadi terkejut karena bukan sang Rusa yang mengetuk pintunya, melainkan sang Raja sendiri. Dan Raja tersebut dengan ramah memegang tangannya dan berkata, "Maukah kamu ikut bersamaku ke istana?", "Ya, tetapi saya tidak dapat meninggalkan rusa ku sendirian di sini." Sang Raja lalu berkata, "Rusamu boleh ikut kemanapun kamu pergi." dan saat itu sang Rusa di lepas oleh para pemburu dan berlari ke arah adik perempuannya.
Akhirnya sang Raja membawa sang Gadis beserta rusanya ke istana, dan tidak berapa lama kemudian sang Raja menikahi gadis tersebut.
Saat ibu tiri dari kakak beradik mendengar kabar tersebut, hatinya menjadi dengki dan putrinya kandungnya yang memiliki mata cuma satu, mendatanginya dan berkata, "Saya seharusnya yang mendapatkan keberuntungan dan menjadi Ratu." "Tenanglah," kata sang Ibu tiri, "Kamu akan mendapatkannya ketika saatnya telah tiba,"
Tiba suatu saat ketika Raja sedang berburu di hutan, sang Adik yang telah menjadi Ratu melahirkan seorang anak laki-laki, Ibu tiri yang penyihir menjalankan rencananya, dengan menyamar menjadi seorang pelayan, dia memberi racun sihir pada sang Ratu dan sang Ratu pun lenyap terkena racun sihir itu. Kemudian ibu tiri itu dengan cepat mendandani anak gadisnya dengan sihirnya agar sama seperti sang Ratu. Tetapi walaupun ibu tiri itu mempunyai sihir, dia tidak dapat menyamarkan mata putrinya yang hanya satu itu dan mencari alasan yang baik agar raja tidak menyadari perbedaannya.
Sang Raja menjadi sangat gembira mendengar bahwa sang Ratu telah melahirkan anak laki-laki, saat dia ingin menjenguk sang Ratu, Ibu tiri yang menyamar menjadi pelayan berpesan kepada Raja agar tidak membiarkan sinar mengenai mata dan tidak membuka tirai jendela atau menyalakan lilin yang terang di dalam kamar, karena sang Ratu masih lemah. Raja tidak pernah menyadari bahwa yang selalu di temui itu bukanlah sang Ratu yang asli.
Sang Ratu dan BayinyaSetelah kejadian itu, di ruangan di mana bayi itu ditidurkan, perawat yang menjaga bayi sering melihat pintu kamar tersebut dibuka oleh seorang wanita yang mirip sekali dengan Ratu. dan dengan perlahan-lahan orang yang mirip Ratu itu mengangkat sang bayi dari buaian, menggendongnya, menidurkannya kembali, lalu pergi ke sudut kamar bayi, dimana sang Rusa selalu berbaring, mengelus punggung sang Rusa, dan diam-diam kembali keluar dari kamar tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kejadian tersebut berulang terus menerus dan setiap kali perawat yang menjaga bayi tersebut bertanya ke penjaga pintu, mereka selalu mengatakan tidak melihat satu orang pun masuk ke dalam ruangan itu. Karena ketakutan, perawat tersebut tidak pernah menyampaikan apa yang dilihatnya kepada siapapun.
Suatu malam, kejadian tersebut terulang kembali, tetapi kali ini orang yang mirip dengan Ratu tersebut bertanya kepada sang perawat: "Apakah anakku baik-baik saja? Apakah Rusaku baik-baik saja? Saya akan datang dua kali lagi lalu mengucapkan selamat tinggal." Perawat yang ketakutan, tidak menjawab apa-apa dan setelah kepergian sang Ratu yang asli itu, dia lalu melaporkan hal tersebut pada Raja. Raja lalu terkejut dan berkata, "Apa yang kamu katakan itu? saya akan ikut melihat dan mengawasi kamar tidur anakku nanti malam."
Ketika malam tiba, sang Ratu yang asli muncul kembali dan bertanya kepada sang perawat: "Apakah anakku baik-baik saja? Apakah Rusaku baik-baik saja? Saya akan datang sekali lagi lalu mengucapkan selamat tinggal." Saat itu Raja yang bersembunyi di kamar tersebut, tidak keluar dari persembunyiannya, dan tidak mengucapkan apa-apa.
Dihari berikutnya sang Raja ikut kembali mengawasi kamar tidur anak bayinya, dan ketika sang Ratu yang asli datang dan berkata: "Apakah anakku baik-baik saja? Apakah Rusaku baik-baik saja? Saya datang kali ini untuk mengucapkan selamat tinggal." Sang Raja tidak dapat menahan dirinya lagi dan melompat keluar dari persembunyiannya dan berkata, "Kamu adalah istriku yang tercinta!"
"Ya," kata sang Ratu, "Saya adalah istrimu!" saat itu sihir yang mengikat sang Ratu menjadi musnah, sang Ratu menjadi pulih seperti sedia kala seperti tidak pernah mengalami hal apapun. Kemudian sang Ratupun menceritakan semua kisahnya dan betapa kejamnya perlakuan ibu tirinya. Raja langsung menangkap sang Ibu tiri dan anaknya serta menghukum mereka. Setelah ibu tiri yang penyihir itu mendapatkan hukumannya, sihir yang mengikat sang Rusa akhirnya menjadi musnah juga, dan sang Rusa kembali ke bentuk manusia kembali. Akhirnya kakak beradik tersebut dapat hidup dengan bahagia selama-lamanya.
 
Blogger Widgets

invite nda di plurk